Terkungkung sudah
Semua impian dalam tempurung
Memang penyu tak berkaki
Terlambat untuk ia memahami
Segala yang tak dimengerti
Akan impian yang akan tergapai
Sungguh penyesalan
Tak akan mengganti
Waktu yang tak terganti
Kini saatnya untuk kembali
Karena senja kan berganti
Memulai untuk berani
Menggapai yang tak tercapai
Dalam senyum yang tersemai
Malam ini, aku ingin tenggelam
Dalam purnama malam
Yang semakin pekat bersinar
Membuat aku terlelap berselimut awan
Meninggalkan sejenak dunia gelap
Yang penuh gemerlap
Yang tak mengerti arti sebuah ketenangan
Esok, aku ingin berlayar
Dengan perahu sederhanaku
Menembus lautan mimpi
Yang tak terbatas
Melepas segala kegundahan
Hanya gelombanglah lawan ku
Tak akan aku menepi
Biarkan hingga perahuku karam
Karena tak akan ada jejak
Yang tak perlu dikenang
Batu ini masih disini terdiam
Dalam sudut tak dimengerti
Tak dapat beranjak
Enggan untuk pergi
Memulai hal tak dimengerti
Meninggalkan semua
Memang sulit untuk merasa
Merindu saja sulit untuk berkata
Ketika pertemuan datang
Ia sulit untuk menyapa
Terlalu bodoh
Tak pernah jujur dengan keadaan
Selalu penyesalan yang tertinggal
Menanti dalam kebimbangan
Bosan yang tak berujung
Hingga waktu mempertemukan
Batu tak akan pernah memulai
Bertanya kebimbangan hati
Menjawab tanpa mengerti
Kau yang tak berujung
Harus memulai
Bagaimana pun caranya
Jika takut berlalulah
Enggan ia dengan pengecut
Jika tak sanggup enyahlah
Tak perlu menyakitkan
Bertahanlah disampingnya
Karena batu ini
Terlalu penakut untuk orang takut
Terlalu keras untuk pemecah batu
Kau adalah badai
Yang perlahan datang
Dengan kelembutan dan kebaikan
Membuat terpana burung memandang
Tak ingin beranjak bersama bermain
Hingga tak tersadar Terombang ambing
Dibuat oleh lakumu
Kau adalah badai
Yang tak terasa semakin menerkam
Memporak porandakan dunia
Berputar dalam sinar yang menyejukan
Tak tentu arah membawa kemana
Terlena burung burung itu dengan tingkahmu
Kau adalah badai
Yang sedang bermain dengan waktu
Namun menggapai langit tak sanggup
Dan terhenti pun tak bisa
Biarkan kau terhentak disuatu sudut
Menghempaskan burung burung itu
Hingga terdiam dalam kesunyian
Tapi,
Ia adalah burung
Sugguh burung yang pandai
Burung yang berutung
Tak terjerat dalam pusaranmu
Memang terlalu cepat ia menyadari
Bahwa badai pasti menerkam
Ia adalah burung
Yang tak ingin terhempas
Tak tentu arah dibawamu
Biarkan ia terlempar menjauh
Dari pada masih berputar
Dalam pusaran yang membingungkan
Biarkan badai lain yang akan
Membunuhnya saat nanti
Namun..
bisa saja badai ini
Yang akan membunuhnya dilain waktu
Kau tahu, aku hanyalah penikmat seduhan teh yang dibuat ibuku setiap pagi menelan setengguk kenikmatan yang tak ada tandingannya dikala mata ini baru terbuka menantang mentari
Kau tahu, aku hanyalah penikmat keramaian siang hari yang takut beranjak dalam sepi namun menyukai kesunyian dalam tulisan
Kau tahu, aku hanyalah penikmat petikan gitar yang kau petikan di senja hari menikmati setiap jari yang berjentikan mengalahkan gundah yang merasuki raga
Kau tahu, aku hanyalah penikmat angin yang berhempus menghempaskan wajah meruntuhkan segala kebimbangan hingga rasanya ingin terbawa olehnya
Tapi aku tahu, aku hanyalah penikmat yang terlalu takut untuk dapat beranjak meninggalkan segala kenikmatan yang ada untuk menantang ketakutan yang ada, dalam diam yang tak berkesudahan menunggu tapi tak menanti
