Batu

4:07 PM

Batu ini masih disini terdiam
Dalam sudut tak dimengerti
Tak dapat beranjak
Enggan untuk pergi
Memulai hal tak dimengerti
Meninggalkan semua

Memang sulit untuk merasa
Merindu saja sulit untuk berkata
Ketika pertemuan datang
Ia sulit untuk menyapa

Terlalu bodoh
Tak pernah jujur dengan keadaan
Selalu penyesalan yang tertinggal
Menanti dalam kebimbangan
Bosan yang tak berujung
Hingga waktu mempertemukan

Batu tak akan pernah memulai
Bertanya kebimbangan hati
Menjawab tanpa mengerti
Kau yang tak berujung
Harus memulai

Bagaimana pun caranya
Jika takut berlalulah
Enggan ia dengan pengecut
Jika tak sanggup enyahlah
Tak perlu menyakitkan
Bertahanlah disampingnya
Karena batu ini
Terlalu penakut untuk orang takut
Terlalu keras untuk pemecah batu

Badai & Burung

5:53 AM

Kau adalah badai
Yang perlahan datang
Dengan kelembutan dan kebaikan
Membuat terpana burung memandang
Tak ingin beranjak bersama bermain
Hingga tak tersadar Terombang ambing
Dibuat oleh lakumu

Kau adalah badai
Yang tak terasa semakin menerkam
Memporak porandakan dunia
Berputar dalam sinar yang menyejukan
Tak tentu arah membawa kemana
Terlena burung burung itu dengan tingkahmu

Kau adalah badai
Yang sedang bermain dengan waktu
Namun menggapai langit tak sanggup
Dan terhenti pun tak bisa
Biarkan kau terhentak disuatu sudut
Menghempaskan burung burung itu
Hingga terdiam dalam kesunyian

Tapi,
Ia adalah burung
Sugguh burung yang pandai
Burung yang berutung
Tak terjerat dalam pusaranmu
Memang terlalu cepat ia menyadari
Bahwa badai pasti menerkam

Ia adalah burung
Yang tak ingin terhempas
Tak tentu arah dibawamu
Biarkan ia terlempar menjauh
Dari pada masih berputar
Dalam pusaran yang membingungkan
Biarkan badai lain yang akan
Membunuhnya saat nanti
Namun..
bisa saja badai ini
Yang akan membunuhnya dilain waktu

Kau tahu

7:29 PM

Kau tahu, aku hanyalah penikmat seduhan teh yang dibuat ibuku setiap pagi menelan setengguk kenikmatan yang tak ada tandingannya dikala mata ini baru terbuka menantang mentari

Kau tahu, aku hanyalah penikmat keramaian siang hari yang takut beranjak dalam sepi namun menyukai kesunyian dalam tulisan

Kau tahu, aku hanyalah penikmat petikan gitar yang kau petikan di senja hari menikmati setiap jari yang berjentikan mengalahkan gundah yang merasuki raga

Kau tahu, aku hanyalah penikmat angin yang berhempus menghempaskan wajah meruntuhkan segala kebimbangan hingga rasanya ingin terbawa olehnya

Tapi aku tahu, aku hanyalah penikmat yang terlalu takut untuk dapat beranjak meninggalkan segala kenikmatan yang ada untuk menantang ketakutan yang ada, dalam diam yang tak berkesudahan menunggu tapi tak menanti

Terulang

6:39 AM

Bisakah langkah ini terulang
Kembali ke belakang
Menapaki yang telah hilang
Yang hanya menyisakan kerinduan
Yang terpendam

Inginkah kau mengulang
Menapaki yang terbuang
Sedikit terulang
Mengingat yang tlah hilang
Akan kah menyakitkan?

Tapi mengapa
langkah itu mulai gontai
Siapkah aku mengulang
Kenangan yang akan menghilang

Atau harus aku tenggelam
Dalam kelam malam
Yang tak pernah
Menyisakan kerinduan

Sudahlah,
Langkah kaki
Tak akan pernah mengulang
Berbalik kebelakang
Menapaki langkah
Yang akan menghilang

Tak ingatkah
Jalan panjang masih terbentang
Untuk apa mengulang
Jika kita bisa memulai
Hal baru yang lebih bermakna
Bukankah begitu?

Entahlah

7:01 AM

Biarkan berjarak sejauh
mata tak dapat melihat
Telinga tak dapat mendengar
Kepala tak dapat berpikir

Tetaplah berjarak sejauh
Mulut tak dapat berbicara
Tangan tak dapat menggenggam
Kaki tak dapat melangkah

Tetaplah terdiam
Agar tak ada penyesalan
Bahkan kebimbangan
Atau pun keresahan
Yang mengganggu keraguan
Bebaslah memilih

Biarkan kerinduan
Menjerat dan Menerkam
Hingga jantung berdebar
Ketika pertemuan mempersatukan
Yang tak sengaja dipertemukan
Entah kapan

write what i want to wrote
feel what i want to felt
says what i want to said