Kau tahu, aku hanyalah penikmat seduhan teh yang dibuat ibuku setiap pagi menelan setengguk kenikmatan yang tak ada tandingannya dikala mata ini baru terbuka menantang mentari
Kau tahu, aku hanyalah penikmat keramaian siang hari yang takut beranjak dalam sepi namun menyukai kesunyian dalam tulisan
Kau tahu, aku hanyalah penikmat petikan gitar yang kau petikan di senja hari menikmati setiap jari yang berjentikan mengalahkan gundah yang merasuki raga
Kau tahu, aku hanyalah penikmat angin yang berhempus menghempaskan wajah meruntuhkan segala kebimbangan hingga rasanya ingin terbawa olehnya
Tapi aku tahu, aku hanyalah penikmat yang terlalu takut untuk dapat beranjak meninggalkan segala kenikmatan yang ada untuk menantang ketakutan yang ada, dalam diam yang tak berkesudahan menunggu tapi tak menanti
