kembali lagi dipersimpangan
jika saja aku dapat kembali
apakah kita sudah bergandeng tangan
dalam senyum yang menjuntai
terbahak mengingatnya
tak pernah aku memahami
apa yang ada dalam benaknya
segala pikiran yang tak semestinya
ahh.. sudahlah
kembali ke persimpangan
akhir yang akan berakhir
awal yang akan bermula
penyesalan telah sirna
masalah baru akan tiba
jalan mana yang akan aku lalui
pribadi baru akan datang
dewasa kini akan tergapai
meski takut tak akan sirna
tapi langkah belum berhenti
Pasti tak berarti lurus
Juga tak berarti mulus
Pasti blum tentu benar
Dan tak berarti salah
Pasti haruslah berani
Memulai tuk berjalan
Maju melangkah ke depan atau
Mundur kembali tak berjalan
Pasti jangan penuh kebimbangan
Apa lagi ketakutan
Yang dapat membuat
Kau tenggelam
Luput dari pandangan
Pasti buatlah aku terpukau
Jangan buat terjatuh bahkan
Terlempar menjauh
Pasti akan ada waktunya
Tetapi kau yang memulai
bukan aku..
Terkungkung sudah
Semua impian dalam tempurung
Memang penyu tak berkaki
Terlambat untuk ia memahami
Segala yang tak dimengerti
Akan impian yang akan tergapai
Sungguh penyesalan
Tak akan mengganti
Waktu yang tak terganti
Kini saatnya untuk kembali
Karena senja kan berganti
Memulai untuk berani
Menggapai yang tak tercapai
Dalam senyum yang tersemai
Malam ini, aku ingin tenggelam
Dalam purnama malam
Yang semakin pekat bersinar
Membuat aku terlelap berselimut awan
Meninggalkan sejenak dunia gelap
Yang penuh gemerlap
Yang tak mengerti arti sebuah ketenangan
Esok, aku ingin berlayar
Dengan perahu sederhanaku
Menembus lautan mimpi
Yang tak terbatas
Melepas segala kegundahan
Hanya gelombanglah lawan ku
Tak akan aku menepi
Biarkan hingga perahuku karam
Karena tak akan ada jejak
Yang tak perlu dikenang
Batu ini masih disini terdiam
Dalam sudut tak dimengerti
Tak dapat beranjak
Enggan untuk pergi
Memulai hal tak dimengerti
Meninggalkan semua
Memang sulit untuk merasa
Merindu saja sulit untuk berkata
Ketika pertemuan datang
Ia sulit untuk menyapa
Terlalu bodoh
Tak pernah jujur dengan keadaan
Selalu penyesalan yang tertinggal
Menanti dalam kebimbangan
Bosan yang tak berujung
Hingga waktu mempertemukan
Batu tak akan pernah memulai
Bertanya kebimbangan hati
Menjawab tanpa mengerti
Kau yang tak berujung
Harus memulai
Bagaimana pun caranya
Jika takut berlalulah
Enggan ia dengan pengecut
Jika tak sanggup enyahlah
Tak perlu menyakitkan
Bertahanlah disampingnya
Karena batu ini
Terlalu penakut untuk orang takut
Terlalu keras untuk pemecah batu
Kau adalah badai
Yang perlahan datang
Dengan kelembutan dan kebaikan
Membuat terpana burung memandang
Tak ingin beranjak bersama bermain
Hingga tak tersadar Terombang ambing
Dibuat oleh lakumu
Kau adalah badai
Yang tak terasa semakin menerkam
Memporak porandakan dunia
Berputar dalam sinar yang menyejukan
Tak tentu arah membawa kemana
Terlena burung burung itu dengan tingkahmu
Kau adalah badai
Yang sedang bermain dengan waktu
Namun menggapai langit tak sanggup
Dan terhenti pun tak bisa
Biarkan kau terhentak disuatu sudut
Menghempaskan burung burung itu
Hingga terdiam dalam kesunyian
Tapi,
Ia adalah burung
Sugguh burung yang pandai
Burung yang berutung
Tak terjerat dalam pusaranmu
Memang terlalu cepat ia menyadari
Bahwa badai pasti menerkam
Ia adalah burung
Yang tak ingin terhempas
Tak tentu arah dibawamu
Biarkan ia terlempar menjauh
Dari pada masih berputar
Dalam pusaran yang membingungkan
Biarkan badai lain yang akan
Membunuhnya saat nanti
Namun..
bisa saja badai ini
Yang akan membunuhnya dilain waktu
Kau tahu, aku hanyalah penikmat seduhan teh yang dibuat ibuku setiap pagi menelan setengguk kenikmatan yang tak ada tandingannya dikala mata ini baru terbuka menantang mentari
Kau tahu, aku hanyalah penikmat keramaian siang hari yang takut beranjak dalam sepi namun menyukai kesunyian dalam tulisan
Kau tahu, aku hanyalah penikmat petikan gitar yang kau petikan di senja hari menikmati setiap jari yang berjentikan mengalahkan gundah yang merasuki raga
Kau tahu, aku hanyalah penikmat angin yang berhempus menghempaskan wajah meruntuhkan segala kebimbangan hingga rasanya ingin terbawa olehnya
Tapi aku tahu, aku hanyalah penikmat yang terlalu takut untuk dapat beranjak meninggalkan segala kenikmatan yang ada untuk menantang ketakutan yang ada, dalam diam yang tak berkesudahan menunggu tapi tak menanti
Bisakah langkah ini terulang
Kembali ke belakang
Menapaki yang telah hilang
Yang hanya menyisakan kerinduan
Yang terpendam
Inginkah kau mengulang
Menapaki yang terbuang
Sedikit terulang
Mengingat yang tlah hilang
Akan kah menyakitkan?
Tapi mengapa
langkah itu mulai gontai
Siapkah aku mengulang
Kenangan yang akan menghilang
Atau harus aku tenggelam
Dalam kelam malam
Yang tak pernah
Menyisakan kerinduan
Sudahlah,
Langkah kaki
Tak akan pernah mengulang
Berbalik kebelakang
Menapaki langkah
Yang akan menghilang
Tak ingatkah
Jalan panjang masih terbentang
Untuk apa mengulang
Jika kita bisa memulai
Hal baru yang lebih bermakna
Bukankah begitu?
Biarkan berjarak sejauh
mata tak dapat melihat
Telinga tak dapat mendengar
Kepala tak dapat berpikir
Tetaplah berjarak sejauh
Mulut tak dapat berbicara
Tangan tak dapat menggenggam
Kaki tak dapat melangkah
Tetaplah terdiam
Agar tak ada penyesalan
Bahkan kebimbangan
Atau pun keresahan
Yang mengganggu keraguan
Bebaslah memilih
Biarkan kerinduan
Menjerat dan Menerkam
Hingga jantung berdebar
Ketika pertemuan mempersatukan
Yang tak sengaja dipertemukan
Entah kapan
Semua kembali seperti semula
Berawal dari sebuah tanda tanya
Dan berakhir dengan titik
Meski hanya penafsiran
Namun sepertinya
Itu jawaban yang benar
Memang mudah untuk menyangka
Namun sulit untuk menebak
Kebenaran akan sebuah pertanyaan
Yang tak ingin dijawab dengan kata kata
Yang tak ingin didengar dengan bisikan
Namun ingin dirasakan
Hingga waktu yang berkata
Memang waktu tak dapat berkata
Tapi ia tak pernah berbohong
Bahwa waktu selalu memiliki
Jawaban atas pertanyaan
Yang tak dapat diungkapkan
Hingga waktu yang tepat
Datang menjawab
Benar benar tamparan kehidupan
Bagaimana bisa kau beranggapan
Bahwa kita semua sama
Berada dalam posisi yang sama
Bermimpi menggapai bersama
Memang ternyata Tuhan adil
Memberikan hambanya porsi
Yang sesuai kemampuan
Entah bagaimana rasanya
Sepertinya aku tak sekuat mereka
Memang hidup telah diatur
Tak bisa kita memilih
Siapa orang tua yang melahirkan
Bagaimana rupa orang tua
Keluarga seperti apakah kita
Hanya Tuhan yang tahu
Tapi bagaimana pun
Hidup tetaplah berjalan
Kau akan dapat memilih
Bagaimana jalan hidupmu
Mau kau apakan hidupmu
Apa yang akan kau lakukan
Karena Tuhan maha adil
Ada sesuatu yang dapat
Kau pilih dan ada sesuatu
Yang harus kau relakan
Terima ketentuanya dengan
Berlapang dada
Mana tau itu lah jalan hidup mu
Yang terbaik
Karena Tuhan tau kemampuanmu
Berbanggalah Dia menyayangimu
Matahari terlalu terik
Kemarau terlalu panjang
Tanah itu mulai retak
Tak sanggup lagi
Menahan kerinduan
Pada air dari langit
Meski hanya setetes
Hewan hewan itu mulai keluar
Mencari cari air yang tersisa
Diujung sungai yang mulai
Mengering
Yang amat merindukan
Arus yang deras
Terlalu lama sudah mereka menunggu
Menahan rasa dahaga yang menggrogoti tubuh
Dari pada mati tercekik
Lebih baik mereka mencari
Dari pada mati menyesal
Lebih baik mereka berusaha
Langit apa kau tak melihatnya
Terlalu lama mereka sengsara
Menahan rindu pada awan kelabu
Yang meneteskan kehidupan
Tak apa jika petir mengikuti
Meski ia tak dirindukan
Pasti ia ingin menyapa
Melihat kehidupan yang menyedihkan
Cepatlah angin iringi awan kelabu
Yang amat dirindukan
Sungguh tak ada yang dapat
Mengalahkan angin di subuh hari
Diberikannya kesejukan
Yang tak akan kau dapat
Jika matahari telah menyapa
Sungguh tak ada yang dapat
Mengalahkan daun dipagi hari
Disembunyikannya kerinduan
Dibalik embun pagi
Hingga tak terasa
Bulan kembali bersinar
Sungguh tak ada yang dapat
Mengalahkan senja di sore hari
Dipertemukannya malam dan siang
Hingga langit biru pun berbahagia
Memberi warna yang
Amat mempesona
Apakah kau tau sebuah nyanyain diatas awan?
Terdengar sungguh mempesona
Berdendang dengan penuh canda
Menari dengan penuh suka
Terhanyut dalam hempasan angin
Hingga tawa memecahkan langit
Apakah kau tau sebuah nyanyian dipadang pasir?
Tercekik mendengarnya
Hingga mata berlinang
Seakan nafas sudah diambang batas
Kering berdebu terhempas angin
Bagai oase yang mengering
Lalu apa yang ingin kau dengar?
Tak akan keduanya beriringan
Kau akan terhanyut didalamnya
Hingga tersadar telah melupakan
Sebuah kesedihan
Karna terlarut dalam kebahagiaan
Atau malah kau terjebak dalam tangisan
Hingga tak memahami
Bagaimana rasanya tertawa
Apa yang kau inginkan?
Tuhan
Ajarkan ia sebuah
Cinta tanpa syarat
Yang tak mengenal isyarat
Namun terpaut secara tersirat
Tanpa tersadar ia telah terpikat
Seperti orang buta
Yang tak melihat rupa
Bahkan tak mengenal warna
Namun segala terasa bermakna
Akankah terjadi?
Namun bagaimana ia mengenal cinta
Terlalu sulit untuk mencoba
Memberi hati yang terpaut
Bukan sulit untuk mencinta
Namun tak mengerti apa itu cinta
Tuhan
Apakah dia menyulitkan
Membuat orang lain kesulitan
Menyusahkan dirinya sendiri
Sungguh dia tak bermaksud
Menyakiti
Tuhan
Apakah hidup harus memilih
Membuat semua terluka
Memilah yang tak disuka
Sungguh sakit jika tak
Terpilih
Tuhan
Apakah dia harus mencoba
Membuat tangan terbuka
Membagi rasa suka duka
Kepada dia yang bersuka
Namun sungguh tak mengerti
Bagaimana kehilangan
Jika nanti terjatuh
Anggrek itu merunduk
Bukan dia tidak menyukai dunia
Hanya Malu dengan dunia
Mawar itu berduri
Bukan dia berniat menyakiti
Hanya mencoba menjaga diri
Dandelion itu berterbangan
Bukan dia ingin berhamburan
Hanya ingin menyenangkan angin
Melati itu sungguh wangi
Bukan dia ingin menarik hati
Hanya bersikap sewajarnya
Edelweis itu terlalu jauh
Bukan dia bermaksud menjauh
Hanya ingin berada
Ditempat yang seharusnya
Sakura itu berguguran
Bukan dia tidak menyukai ranting
Hanya sudah saatnya pergi
Meninggalkan kerinduan
Sungguh puzzle itu membingungkan
Membuat semua bertanya - tanya
Hanya aku diam tak mengerti
Awalnya biasa saja
Tak mengerti dan tak menanggapi
Semuanya samar
Tapi mengapa semua orang bertanya
Bertanya akan hal yang sama ketika cerita itu didengar
Kini ku mulai bertanya - tanya
Mulai menduga - duga
Akan menjadi apa potongan puzzle ini
Benarkah dugaan mereka
Atau hanya sebuah pengandaian
Susunan puzzle itu
Menarik benang merah yang tak terlihat
Dugaan dan pengandaian yang tak terlepas
Susun trus hingga jemu menghampiri
Susun trus hingga pertanyaan semakin memusingkan
Apa yang akan dibentuk
Puzzle ini semakin kacau
Puzzle itu kini semakin berantakan
Langkah ku salah, maaf
Sungguh tak dapat membaca
Petunjuk - petunjuk yang tak jelas itu
Apa lebih baik berdiam
Biarkan puzzle itu tersusun dengan sendirinya
Hingga waktu yang menjelaskannya
Atau biarkan waktu berlalu
Hingga terlupa sebelum terkenang
Bosan, ingin rasanya terbang
Menuju angkasa tak terbatas
Dapatkah aku menggapai bintang
Yang bersinar sangat terang
Cukup satu bintang
Untuk menemaniku dalam gelap
Bosan, ingin rasanya pergi
Menuju tempat tersembunyi
Dapatkah aku menemukannya
Mencari dalam balik rerumputan
Bersama orang terkasih
Untuk menemaniku dalam sunyi
Bosan, bawa aku menghilang
Menuju ruang dalam hati
Dapatkah aku berada disana
Menjadi satu satunya orang terkasih
Bersamamu dalam doa
Untuk menemani hidupku
mengapa aku berada disini
pantai ini sungguh membuatku terdiam
sinar mentari itu
hembusan angin itu
suara gesekan daun yang diterpa angin
memang tentram
tenang aku dibuatnya
tapi kala senja datang
keheningan disambut dengan kicauan burung
yang terbang kembali menuju peristirahatan
kegelapan akan segera menyapa
aku benci
senja mengapa ia pergi perlahan
melenyapkan sinar secara perlahan
tak bisakah bertahan untuk sejenak lebih lama
menyapa dalam warna yang merindukan
bangunkan aku dari senja yang akan tenggelam
agar aku dapat menyapanya
menyapa senja walau hanya sebentar
akan kah senja yang sama akan kembali menyapa
akan kah senja yang sama akan dirindukan
senja sirna bersama mentari
memberi warna yang selalu dirindu
hilang dalam kegelapan
aku benci
Bayang-bayang itu kini hadir
Mengumpat pun tak mungkin
Semua gerak-gerik
Pembicaraan mereka
Mengapa harus terjadi
Mengapa harus bertanya
Bukankah itu hal yang biasa
Wajar jika manusia
Datang-kembali, Pergi-menghilang
Apa yang perlu di khawatirkan?
Tak ada yang abadi di dunia ini
Biarkan takdir yang mengatur
Segala kegundahan dihati
Biarkan tuhan yang tahu
Bayangan itu kini akan hilang
Entah apa yang dirasa
Haruskah bersedih?
Namun apa yang membuatmu bersedih?
Entahlah karena aku pun tak mengerti
Bukan kah hal yang sama
tak akan terulang kembali
Mengapa harus menyia - nyiakan waktu
Semakin lama semakin berlalu
Diam semakin takut kehilangan
Mengapa mulut ini terlalu kelut
Sungkan berkata dalam diam
Angin bawa terbang segala keheningan
Yang menghampiri dalam diam
Rindu ini bagaikan air, mengalir begitu saja. Benar - benar tak terasa. Sesak dada ini mengingatnya. Rasanya ingin bertemu untuk melepas kerinduan, tapi apa daya diri ini sungguh malu, sungkan untuk mengatakan 'aku rindu' hanya doa yang dapat ku panjatkan. Diam dalam sunyi, diam dalam hati, tutup mulutmu agar rasa ini hanya kau yang miliki.
Memangnya siapa dia? Hingga benar - benar merindukannya. Jarak kau sungguh jauh untuk mengatakan kau rindu, bersama saja sungguh sungkan. Kau benar - benar tak terlihat diantara jutaan manusia itu. Terlalu banyak ketidak mungkinan yang terjadi, apa kau yakin?
Entah lah tak mengerti, apa aku telah jatuh? Jatuh kedalam hatinya? Hingga aku merindukannya. Aku benar - benar tak ingin semua terjadi, aku mengerti dia bukanlah untuk ku. Bawa aku pergi jauh meninggalkan rasa ini, rasa yang tak aku mengerti.
Apa yang ingin kau tinggalkan? Dia tidak tahu bahwa kau rindu dan dia pun tak tahu bahwa kau telah jatuh hati. Apa yang harus kau khawatirkan? Tenang lah tak seorang pun tau, lebih baik kau diam atur detak jantungmu yang tidak beraturan itu.
Harus tenang, aku harus tenang. Semua ini hanya pikiran ku bukan sebuah hal yang rumit. Tinggalkan dia, lupakan rasa itu, jangan terlalu berbesar hati jika dia tersenyum, karena itu hal yang wajar yang dia lakukan kepada setiap temannya. Lupakan setiap tingkahnya, semua hal yang dia lakukan kepada mu sama seperti apa yang dia lakukan kepada temannnya. Jika memang kita akan bersatu maka dipersatukan dalam ikatan yang suci dalam lindungan sang pencipta.
Entah sudah tahun keberapa
Rasanya selalu ingin merasakan sebuah perubahan
Entah perubahan apa yang selalu ditunggu
Hanya membayangkan kelak ingin merubah segalanya
Tidak tidak segalanya
Diri inilah yang harus dirubah
Berubah layaknya dunia
Dunia selalu berubah dari tahun ke tahun, masa ke masa, bahkan abad ke abad
Tanpa ada yang menyadari bahwa ia telah tua
Tetapi lihatlah bentuknya masih tetap sama bulat berwarna biru setia berputar mengelilingi matahari
Ya dunia, sungguh rasanya ingin berubah seperti itu
Memperbaiki diri dari hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun
Mempelajari hal baru yang tak terbayangkan
Tumbuh bersama hingga tak terasa tua telah menyapa
Tetapi lihatlah bahwa kita masih tetap satu bersama hingga akhir hayat
Memang angan sungguh tinggi
Imajinasi sungguh besar
Cita - cita pun tak dapat melampauinya
Tersenyum membayangkan saja sungguh menggelitik
Entah kapan perubahan itu akan datang
Apa harus menunggu sosok yang tepat untuk dapat melangkah bersama
Menapaki setiap sudut perubahan
Tidak. Diri inilah yang harus melakukannya seperti dunia
